PoltamNews.Com, TOBOALI — Pengelolaan tiket di wahana Bianglala dan Rainbowslide di Himpang Lime Toboali, Kabupaten Bangka Selatan menuai sorotan. Di mana, sejumlah pengunjung menemukan nomor tiket yang diterima identik, meskipun dibeli pada tanggal berbeda.
Seorang pengunjung yang enggan disebutkan namanya, bercerita saat ia mengunjungi Bianglala dan Rainbowslide di kawasan tersebut pada Rabu, 2 April 2025 kemarin bersama istrinya.
“Kami membeli dua tiket, dan di gelang tiket saya tertulis nomor 1765,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (3/4/2025) sore.
Saat itu, ia tak terlalu memperhatikan nomor tiket. Namun, setelah mencocokkan dengan tiket istrinya, ia terkejut mendapati nomor yang sama.
Hal tersebut terjadi lagi hari ini, Kamis, 3 April 2025, di mana ia kembali membeli tiket dan lagi-lagi menerima nomor 1765.
“Ini aneh sekali. Apakah ini kode khusus, atau hanya kesalahan teknis, atau ada sesuatu yang tidak beres?” ungkapnya.
Ia juga mempertanyakan transparansi pengelolaan tiket tersebut. “Kalau nomor tiket bisa sama, bagaimana dengan akuntabilitas pendapatan wahana ini? Jangan sampai ada praktik curang atau potensi penggelapan,” tegasnya.
Menurutnya, Bianglala dan Rainbowslide ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari ikon wisata yang berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bangka Selatan. Ia berharap, pihak berwenang segera menindaklanjuti temuan ini.
“Saya harap ada evaluasi secepatnya agar tidak ada pihak yang dirugikan,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Bangka Selatan, Firmansyah, menyarankan agar permasalahan tiket ini dikonfirmasi langsung ke pihak pengelola.
“Kami juga akan meminta klarifikasi dari pengelola wahana untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam sistem tiket,” ungkap Firmansyah, melalui pesan WhatsApp.
Sementara itu, Dona, pengelola wahana menyatakan nomor pada tiket tersebut tidak memiliki kode khusus dan hanya digunakan sebagai tanda cetakan.
“Nomor di tiket itu hanya tanda saja, tidak ada kode apa pun. Itu bukan penomoran gelang pengunjung, melainkan tanda bagi kami untuk mengetahui sudah berapa kali mencetak tiket,” ujar Dona.
Namun, pernyataan ini masih menyisakan tanda tanya. Jika nomor tiket hanya sekadar tanda cetakan, seharusnya tetap memiliki urutan yang jelas.
Penggunaan nomor yang sama di hari yang berbeda, tentu menimbulkan pertanyaan terkait akuntabilitas pencatatan tiket dan transparansi pengelolaan pendapatan.
Hal ini telah ditanyakan ke pihak pengelola, namun hingga berita ini diterbitkan pihak terkait belum memberikan jawaban.

















