Feature: Inilah Kisah Soni, Anak Petani Karet di Toboali yang Lolos Korps Brimob Polri
TOBOALI — Jarum jam baru menunjuk angka empat subuh saat pasutri Auri dan Yanti bersiap membelah pekatnya malam di pelosok Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Rutinitas mereka hampir tak pernah berubah selama bertahun-tahun, seperti membawa mangkuk kecil, berjalan di sela-sela pohon, lalu menyayat kulit batang karet demi setetes demi setetes getah. Tetapi dari sanalah dapur rumah mereka bisa terus mengepul.
Namun, di tengah aroma asam getah karet dan kesederhanaan hidup itu, anak bungsu mereka yang bernama Soni punya mimpi yang dianggap terlalu tinggi untuk ukuran anak seorang penyadap karet, ia ingin menjadi polisi, tepatnya anggota Korps Brimob.
Jalan Soni ternyata tidak langsung mulus. Ia harus melewati proses panjang yang menguras air mata, modal, dan mentalnya selama bertahun-tahun.
Bagi keluarga dengan ekonomi pas-pasan, mengikuti seleksi kepolisian jelas bukan perkara mudah. Soni mendaftar tanpa modal uang sepeser pun. Modal utamanya hanya fisik yang terus dilatih dan tekad yang membaja.
Kenyataan di lapangan sempat berjalan kejam. Soni mendaftar untuk pertama kalinya, dan langsung gagal. Tahun berikutnya ia mencoba lagi, hasilnya sama, namanya kembali dicoret. Kegagalan itu terus berulang sampai empat kali berturut-turut.
Bisa dibayangkan bagaimana hancurnya mental seorang anak muda yang berkali-kali melihat namanya berada di daftar “Tidak Memenuhi Syarat”. Setiap kali pulang membawa kabar kekalahan ke Toboali, Soni selalu dihadapkan pada wajah lelah ayahnya dan tatapan teduh ibunya.
Alih-alih menyerah dan memilih ikut menyadap karet bersama orang tuanya, Soni justru menjadikan keringat ayah ibunya sebagai bahan bakar. Baginya, berhenti berjuang sama saja dengan menyia-nyiakan pengorbanan orang tuanya selama ini.
Tahun ini dia kembali mencoba. Soni tahu, ini adalah momentum terakhirnya. Kali ini, ia mempersiapkan diri jauh lebih gila-gilaan. Fisiknya digembleng habis-habisan, dan malam-malamnya dihabiskan untuk belajar materi ujian.
Tanpa adanya koneksi pejabat atau uang pelicin sepeser pun, Soni maju murni bermodalkan kemampuan diri sendiri.
Saat hari pengumuman akhir tiba, ruang sidang mendadak sunyi. Begitu nama “Soni” dibacakan dan dinyatakan lulus terpilih masuk Korps Brimob, air matanya langsung tumpah saat itu juga. Kabar itu sampai ke Toboali, membuat Auri dan Yanti tak kuasa menahan tangis sujud syukur di rumah mereka. Anak bungsunya itu akhirnya membuktikan diri.
Soni sadar betul, keberhasilannya bukan sekadar karena fisiknya yang kuat atau otaknya yang encer. Menurutnya, ada kekuatan di luar logika manusia yang membantunya lolos kali ini.
“Doa orang tua itu menembus langit,” kata Soni lirih. Ia tahu, di setiap tahapan tes berat yang ia lalui, ada rapalan doa ibunya yang tak pernah putus di sepertiga malam dan restu ayahnya yang mengiringi langkahnya dari kebun karet. Soni lulus 100 persen murni atas usahanya sendiri dan jalur langit dari orang tuanya.
Kini, rutinitas Soni sudah berubah total. Ia tak lagi berada di Bangka Selatan. Soni sudah berada sejauh ribuan kilometer dari rumah, tepatnya di tanah Kalimantan Selatan, untuk menempuh pendidikan kepolisian yang super ketat dan disiplin tinggi.
Latihan fisik yang berat dan teriknya matahari di pusat pendidikan tak lagi jadi soal bagi anak bungsu ini. Sebab Soni tahu, baret biru yang nanti akan terpasang di kepalanya dibayar tunai dengan air mata, keringat, dan doa malam orang tuanya dari sebuah rumah sederhana di pelosok Toboali. (*)





