Poltamnews.com | Bangka – Terbilang kasat mata, namun semua terlihat oleh banyak mata yang memandang, kebijakan tanpa terurai rasa simpati oleh pejabat daerah yang belum bisa menilai kesedihan hati para nelayan kecil yang hanya menanggung beban kesedihan.

Air mata tak terbendung oleh para nelayan kecil masyarakat nelayan Sungailiat kebupaten Bangka yang saat ini hanya menikmati suara kekompakan mesin penyedot pasir dengan mendapatkan sebuah hasil bumi berbentuk timah, hal ini disampaikan seseorang yang mewakili semua nasib nelayan yang terdiam menatap kapal sebagian nelayan terdampar di pusaran alur muara Jelitik.
Terpantau dan terlihat beberapa kapal yang terjebak oleh dangkalnya aliran alur muara tersebut yang mereka harapkan akan dilakukan pendalaman namun hal ini berubah drastis, bukannya diperbaiki justru menambah rusak dan dangkalnya aliran jalur kapal para nelayan. Sabtu pagi (10 Januari 2026)
Terlihat juga video yang di posting di media sosial Tiktok yang bertuliskan jeritan hati para nelayan alur muara Jelitik yang meminta bapak Gubernur sebagai penguasa jagat raya pulau Bangka Belitung akan kebijakannya ‘ Bapak Gurbernur tolong kami, Jangan saat meminta suara anda ada didepan kami’ tulisan tersebut menggambarkan seorang nelayan yang meminta kebijakan itu akan datang kepada mereka agar bisa terbantu, namun hal itu dianggap hanya bayangan dan suara semu yang tak digubris.
Saat terkonfirmasi awak media Poltamnews.com kepada salah satu nelayan alur muara Jelitik belai menyampaikan suara hatinya terhadap aktivitas tambang yang sudah mulai masuk kedalam alur muara, Rino selaku nelayan muara yang terdampak mengatakan,”Setiap hari mat kami hanya memandang dan telinga kami hanya mendengar kerasnya suara mesin alat tambang yang mulai menguasai aliran alur Muara kami, sangat menyedihkan sekali dan tidak sesuai harapan kami walupun sudah berkali-kali dilakukan audiensi kepada pihak aparatur hukum dan pemerintah setempat, namun tak membuahkan hasil yang memuaskan bagi para nelayan disini, mohon didengar para aparatur penegak hukum bapak Kapolda, bapak Bupati dan bapak Gubernur Bangka Belitung, tolong dengar suara hati kami, jeritan hati kami, tolong jangan rusak lingkungan kami, kami hanya sebagai penonton menyaksikan rusaknya fasilitas kami untuk melaut, Pakah ini yang anda inginkan terhadap kami masyarakat kecil, KAI tidak punya kekuatan dan kami tidak punya wibawa kewenangan untuk berbuat, jadi tong bantu kami,” ujarnya mewakili seluruh nelayan alur muara Jelitik.
Hal yang disaksikan setiap hari tak merubah wujud nyata keinginan masyarakat nelayan terhadap Lur muara Jelitik namun terus dikuasai oleh dentuman suara mesin penghancur perut bumi yang tanpa memandang isi diatas perut bumi yang tak bisa menikmati hasil didunia degan penuh kenikmatan dan kesenangan. (red).

















