Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Bakuda Babel
Kab. Bangka Barat

45 Tim SD Berebut Piala HAORNAS Tempilang, Yusderahman: Olahraga Bukan Sekadar Menang

0
×

45 Tim SD Berebut Piala HAORNAS Tempilang, Yusderahman: Olahraga Bukan Sekadar Menang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

POLTAMNEWS.COM | Sebanyak 45 tim sepakbola mini putra dan putri tingkat sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Tempilang mulai menapaki lapangan untuk mengejar prestasi dalam Piala HAORNAS Kecamatan Tempilang 2026.

Turnamen yang digelar Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) Kecamatan Tempilang itu resmi dibuka Wakil Bupati Bangka Barat H. Yusderahman di lapangan sepakbola SD Negeri 15 Tempilang, Selasa (6/10/2026).

Kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai 6 hingga 13 Oktober 2026. Tidak sekadar mencari juara, turnamen ini diarahkan menjadi ruang pembinaan olahraga pelajar sekaligus penjaringan bibit atlet potensial dari Kecamatan Tempilang.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yusderahman menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan HAORNAS Kecamatan Tempilang tahun 2026. Kegiatan positif seperti ini harus tetap dilaksanakan sebagai wadah pembinaan olahraga pelajar,” ujar Yusderahman.

Di hadapan para peserta yang didominasi anak-anak usia sekolah dasar, Yusderahman mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan dalam olahraga tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah kemenangan atau piala yang dibawa pulang.

“Untuk anak-anak hebat Bangka Barat, ingatlah olahraga bukan hanya tentang menang dan menjadi juara. Olahraga mengajarkan kita disiplin, kerja keras, sportivitas, keberanian, dan pantang menyerah,” katanya.

Pesan itu menjadi penting karena bagi anak-anak, pertandingan bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol terbanyak. Di balik permainan terdapat proses belajar menghadapi tekanan, menerima kekalahan, menghormati lawan dan kembali mencoba setelah gagal.

Menutup sambutannya, Yusderahman mengajak seluruh pihak menjadikan olahraga sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia di Bangka Barat.

“Mari kita bangun generasi Bangka Barat yang sehat, kuat, berkarakter, berprestasi dan berdaya saing,” tegasnya.

Piala HAORNAS Tempilang 2026 mengusung tema “Bersama yang Kita Wujudkan Generasi Sehat, Aktif dan Berprestasi.” Sementara materi publikasi kegiatan membawa pesan “Olahraga Satukan Kita Menuju Indonesia Maju.”

Ketua panitia pelaksana, Sopan Sopian, S.Pd., mengatakan turnamen dirancang tidak hanya untuk menghadirkan pertandingan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap olahraga.

“Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap olahraga, mengembangkan bakat sepakbola, meningkatkan kebugaran, serta menanamkan sportivitas, disiplin, kerja sama, tanggung jawab dan fair play,” kata Sopian.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, guru dan kepala sekolah se-Kecamatan Tempilang yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan dapat terlaksana.

“Ucapan terima kasih dan apresiasi kepada panitia, guru-guru serta kepala sekolah se-Kecamatan Tempilang yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” ujarnya.

Lebih jauh, panitia menempatkan turnamen sebagai salah satu ruang untuk menjaring bibit atlet potensial dari Kecamatan Tempilang.

Dua kategori dipertandingkan, yakni sepakbola mini putra dan putri. Setiap sekolah dapat mengirimkan tim sesuai ketentuan yang telah ditetapkan panitia.

Kehadiran kategori putri menjadi bagian penting dalam perluasan pembinaan olahraga di tingkat sekolah dasar.

Sebab, prestasi tidak selalu lahir dari anak yang sejak awal terlihat paling unggul. Prestasi dapat tumbuh ketika seorang anak diberi ruang untuk mencoba, berlatih, mengalami kegagalan, lalu kembali bangkit.

Dalam materi publikasi turnamen, panitia mencantumkan ketentuan usia peserta dengan batas kelahiran 1 Juli 2013.

Peserta juga diwajibkan terdaftar secara resmi pada sekolah masing-masing dan hanya boleh memperkuat satu tim. Selain itu, pemain harus menggunakan perlengkapan olahraga yang sesuai serta menjunjung tinggi sportivitas selama pertandingan.

Sekilas, ketentuan tersebut mungkin terlihat sebagai urusan administratif.

Namun bagi anak-anak, aturan justru menjadi bagian dari proses pendidikan.

Mereka belajar bahwa sebuah pertandingan mempunyai batas, hak, kewajiban dan tanggung jawab. Mereka juga belajar bahwa kemenangan tidak boleh ditempuh dengan mengabaikan aturan.

Di titik inilah olahraga pendidikan menemukan maknanya.

Kompetisi harus menjadi ruang pembinaan, tetapi akses terhadap kompetisi juga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi beban bagi sekolah maupun peserta didik.

Anak yang mempunyai bakat olahraga seharusnya tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan biaya.

Karena itu, dukungan pemerintah, dunia usaha, sekolah, komunitas dan masyarakat menjadi penting agar olahraga pendidikan dapat berkembang secara inklusif.

Panitia menyiapkan penghargaan bagi juara I hingga IV serta pencetak gol terbanyak kategori putra dan putri.

Namun, piala sesungguhnya hanya salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang seorang anak.

Piala bisa disimpan di lemari sekolah.

Medali bisa tergantung di kamar.

Foto kemenangan dapat memenuhi album dokumentasi.

Tetapi nilai yang paling penting justru tidak mempunyai bentuk fisik.

Disiplin tidak bisa dipajang. Sportivitas tidak bisa digantung di dinding. Kepercayaan diri tidak dapat dihitung hanya dari jumlah medali. Kemampuan bekerja sama pun tidak selalu terlihat dalam tabel klasemen.

Dari perspektif itulah pertandingan di Tempilang memiliki konteks yang lebih besar.

Lapangan sekolah dapat menjadi titik awal pembentukan manusia yang sehat, aktif dan berkarakter.

Dalam proses tersebut, guru PJOK memiliki posisi strategis.

Mereka berada paling dekat dengan anak-anak ketika potensi olahraga mulai terlihat. Perannya bukan sekadar mengajarkan cara menendang bola, mengoper atau menjaga posisi.

Guru dapat mengenali anak yang mempunyai koordinasi tubuh baik, daya tahan tinggi, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan hingga keberanian mengambil keputusan.

Pengamatan seperti itu menjadi modal awal dalam membangun pembinaan olahraga yang berkelanjutan.

Karena itu, pertandingan antarsekolah seperti Piala HAORNAS Tempilang akan mempunyai nilai lebih apabila hasil pengamatan selama pertandingan diteruskan menjadi program pembinaan.

Anak yang terlihat potensial jangan berhenti pada sertifikat.

Ia perlu diarahkan menuju latihan.

Anak yang kalah jangan berhenti pada kekalahan.

Ia perlu diberi kesempatan untuk berkembang.

Sekolah yang belum memiliki prestasi juga tidak boleh kehilangan semangat untuk kembali membangun tim.

Proposal KKG PJOK Tempilang telah menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan olahraga peserta didik.

Namun, tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika pertandingan berakhir pada 13 Oktober mendatang.

Siapa yang akan membina pemain potensial?

Bagaimana sekolah melanjutkan latihan?

Apakah kompetisi antarsekolah dapat digelar secara berkala?

Bagaimana fasilitas olahraga dapat diperbaiki?

Bagaimana anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap memperoleh kesempatan yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk mengurangi arti sebuah turnamen.

Sebaliknya, pertanyaan itu diperlukan agar sebuah kegiatan olahraga memiliki umur lebih panjang daripada jadwal pertandingan.

Sebab pembinaan atlet tidak dapat dilakukan secara instan.

Ia membutuhkan latihan, pendampingan, fasilitas, kompetisi yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak.

Pada akhirnya, pembangunan sumber daya manusia tidak selalu dimulai dari proyek besar.

Kadang ia dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Dari seorang guru yang mengajak anak berolahraga.

Dari sekolah yang menyediakan lapangan.

Dari orang tua yang memberi ruang bagi anak untuk berlatih.

Dari teman satu tim yang mengajarkan arti kerja sama.

Dari wasit yang mengajarkan bahwa aturan berlaku bagi semua.

Dari seorang anak yang, meski kalah hari ini, tetap ingin bermain lagi esok hari.

Itulah makna terdalam dari olahraga pendidikan untuk membangun manusia melalui sportivitas, persahabatan dan prestasi.

Sebab prestasi tanpa karakter dapat kehilangan arah.

Persahabatan tanpa sportivitas dapat rapuh.

Olahraga tanpa pembinaan hanya akan menjadi pertandingan yang selesai ketika peluit panjang berbunyi.

Tetapi jika olahraga dipakai sebagai jalan membangun kesehatan, karakter, disiplin, keberanian dan kemampuan bekerja sama, maka lapangan kecil di Tempilang dapat menjadi bagian dari investasi besar bagi masa depan.

Satu bola mungkin hanya bergerak selama 90 menit. Tetapi nilai yang ditanamkan melalui olahraga dapat bergerak jauh lebih lama dalam mengikuti seorang anak hingga dewasa, memasuki dunia kerja, membangun keluarga dan kelak ikut menentukan arah daerahnya.

Karena itu, Piala HAORNAS Tempilang layak dibaca bukan hanya sebagai pertandingan untuk mencari juara.

Ia menjadi upaya menanam manusia sebelum memanen prestasi.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri Wakil Bupati Bangka Barat, Kapolsek Tempilang, Kasi Kesmas Kecamatan Tempilang, Kabid PO Disdikpora Bangka Barat, Koordikpora Kecamatan Tempilang, kepala sekolah dasar negeri se-Kecamatan Tempilang serta tamu undangan lainnya.

Suasana pembukaan berlangsung meriah dengan penampilan drumband SD Negeri 15 Tempilang yang menyambut dimulainya kompetisi.

Di lapangan itu, 45 tim mungkin datang dengan mimpi berbeda.

Ada yang ingin membawa pulang piala.

Ada yang ingin mencetak gol.

Ada yang ingin menjadi pemain terbaik.

Namun, jauh lebih penting dari semua itu, mereka sedang belajar satu hal tentang bagaimana menjadi manusia yang berani bermain, berani kalah, dan berani mencoba lagi.

Penulis: Belva Al Akhab

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *